WARTAETAM — Orangutan adalah penguasa tajuk. Seluruh hidup mereka—makan, tidur, dan berkembang biak—seharusnya dihabiskan di atas pohon. Namun, pemandangan pilu di Bengalon, Kutai Timur, baru-baru ini membalikkan kodrat itu. Seekor induk orangutan terpaksa menapakkan kaki di tanah yang gersang, menggendong dua bayi kembarnya demi mencari setitik harapan hidup.
Fenomena orangutan yang turun ke tanah (terestrial) bukan lagi sekadar perilaku alami, melainkan indikator kegagalan ruang hidup. Di lokasi penemuan, hutan tak lagi berupa hamparan hijau yang luas, melainkan “pulau-pulau” kecil yang terpisah oleh jalan tambang dan hamparan sawit.
“Hutannya terfragmentasi banget. Si ibu harus menyeberang ke hutan lain hanya untuk mencari makan. Kondisinya seperti gelandangan, tidak punya rumah, tidak ada makanan, padahal dia harus menyusui dua bayi,” kata Paulinus Kristanto, Direktur CAN.
Secara analogi, situasi ini adalah mimpi buruk bagi makhluk hidup manapun. Bayangkan seorang ibu dengan dua bayi kembar yang harus berjalan kaki di bawah terik matahari karena rumahnya telah rata dengan tanah. Beban kalori sang induk meningkat dua kali lipat untuk menghasilkan susu bagi si kembar, sementara pohon pakan di sekelilingnya telah tumbang.
M. Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim, menyebut kondisi “terfragmentasi” sebagai ancaman paling nyata bagi kelestarian orangutan di Kalimantan. Meskipun secara fisik satwa tersebut tampak sehat, daya dukung lingkungan yang sempit membuat peluang mereka bertahan hidup dalam jangka panjang sangat kecil. Konflik dengan manusia atau ancaman kelaparan hanya tinggal menunggu waktu.
“Kiri-kanan sudah ada kegiatan pembangunan. Habitat yang layak sangat sempit. Itulah mengapa kami memutuskan melakukan translokasi segera,” ujar Ari.
Penyelamatan yang dilakukan tim gabungan pada Februari lalu memang berhasil memindahkan satu keluarga ini ke area yang lebih aman. Namun, ini hanyalah satu kasus dari sekian banyak orangutan yang masih terjepit di sisa-sisa hutan konsesi.
Kisah induk orangutan dan bayi kembarnya di Bengalon adalah potret besar dari krisis ruang di Kalimantan. Jika koridor hutan tidak segera diperbaiki dan fragmentasi terus dibiarkan, maka keajaiban seperti kelahiran bayi kembar pun tak akan cukup untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan.
