WARTAETAM — Alam selalu punya cara untuk mengejutkan manusia, bahkan di saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Di tengah menyusutnya tutupan hutan di Kalimantan Timur, sepasang bayi orangutan kembar ditemukan bertahan hidup dalam pelukan induknya. Sebuah fenomena yang sangat langka, sekaligus menjadi pengingat tentang daya tahan luar biasa satwa terancam punah ini.
Temuan ini bermula dari sebuah video amatir yang viral di media sosial pada medio Februari 2026. Video tersebut memperlihatkan seekor induk orangutan yang berjalan gontai di area terbuka tanpa tajuk pohon. Namun, ada yang ganjil: di tubuhnya menempel dua sosok kecil yang ukurannya identik.
“Sangat jarang ada orangutan lahir kembar di alam liar. Ini mungkin satu dari sekian ratus kasus,” ujar Paulinus Kristanto, Direktur dan Pendiri Conservation Action Network (CAN).
Tim pemantau dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan CAN awalnya sempat ragu. Dalam dunia primata, jarang sekali induk orangutan mengasuh dua bayi sekaligus kecuali salah satunya adalah anak “titipan” atau hasil adopsi. Namun, setelah pengamatan fisik yang mendalam melalui drone dan pemantauan jarak dekat, dipastikan keduanya adalah saudara kembar yang lahir dari rahim yang sama.
Secara biologis, kelahiran kembar bagi orangutan adalah tantangan hidup dan mati. Induk orangutan harus memproduksi ASI dua kali lipat lebih banyak. Jika biasanya ia hanya perlu mencari makan untuk dirinya dan satu anak, kini beban energinya melonjak drastis. Ironisnya, keajaiban evolusi ini terjadi di habitat yang sedang “sekarat”.
Data BKSDA Kaltim menunjukkan, lokasi penemuan berada di area konsesi yang terfragmentasi—terjepit di antara perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara di wilayah Bengalon, Kutai Timur. Di sana, pohon-pohon pakan mulai hilang, menyisakan petak-petak hutan kecil yang tak lagi saling terhubung.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menyebutkan bahwa temuan ini adalah sebuah sinyal kuat bagi upaya konservasi. “Satu induk dengan dua anak di lokasi yang terfragmentasi itu sangat riskan. Keselamatan mereka menjadi prioritas mutlak kami,” tegasnya.
Setelah melalui pemantauan selama dua hari, tim akhirnya berhasil melakukan evakuasi dan memindahkan induk beserta dua bayinya ke kawasan hutan yang lebih aman dalam lanskap yang sama.
