WARTAETAM — Ada momen haru yang tak akan dilupakan oleh tim penyelamat saat mendekati seekor induk orangutan di sebuah sudut hutan di Bengalon, Kutai Timur, 15 Februari 2026.
Alih-alih lari menjauh atau melawan dengan agresif, satwa besar itu justru seolah “menyerahkan diri”. Ia turun dari ketinggian pohon, membawa dua bayi kembarnya menuju tanah lapang, seolah meminta pertolongan yang sudah lama ia tunggu.
Proses penyelamatan ini melibatkan kolaborasi antara BKSDA Kaltim, tim CAN, dan perusahaan pemilik konsesi. Evakuasi satwa liar biasanya berlangsung lama dan penuh risiko, terutama jika satwa berada di tajuk pohon yang tinggi. Namun, kali ini berbeda.
“Biasanya orangutan jarang mau turun ke tempat rendah. Tapi ibu dan anak ini seperti menyerahkan diri. Mereka turun ke tanah, tempat yang sama sekali tidak ada pohonnya. Pasrah,” kenang Paulinus Kristanto dari CAN.
Kondisi sang induk memang terlihat lelah. Beban mengasuh dua bayi kembar berusia satu tahun lebih di tengah hutan yang rusak telah menguras energinya. Berjalan di atas tanah (terestrial) bagi orangutan sebenarnya adalah tanda bahaya—itu berarti mereka tidak punya lagi “jembatan” tajuk untuk berpindah.
Saat jarum bius mengenai tubuhnya, sang induk perlahan tertidur. Keajaiban lain terjadi: kedua bayi kembar itu tidak berteriak atau mencoba melarikan diri seperti perilaku umum bayi orangutan saat induknya dilumpuhkan. Mereka tetap menempel erat, diam, dan pasrah saat petugas memindahkan mereka ke dalam kandang transportasi.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa tim bergerak cepat karena menyadari risiko dehidrasi dan malnutrisi pada kedua bayi tersebut. “Kami tidak bisa melakukan pemeriksaan terlalu detail di lapangan karena menyangkut keselamatan bayi. Fokus kami adalah segera memindahkan mereka ke habitat yang lebih baik,” jelas Ari.
Hanya butuh waktu setengah jam perjalanan darat untuk membawa mereka ke area High Conservation Value (HCV) yang lebih rimbun. Lokasi ini masih dalam satu lanskap, namun memiliki ketersediaan pakan dan air yang jauh lebih menjamin.
Sore itu, saat pintu kandang dibuka di rumah barunya, sang induk perlahan sadar. Dengan sisa tenaganya, ia mendekap erat kedua anaknya, lalu memanjat pohon pertama yang ia temui. Di sana, di antara rimbun daun, sepasang bayi kembar itu kembali ke tempat seharusnya mereka berada: di atas pohon, bukan di atas tanah yang gersang.
