SAMARINDA – Jagad media sosial selama beberapa pekan ini dihebohkan dengan kemunculan Paus Orca di sekitar Kepulauan Maratua, Kalimantan Timur. Sebab, masyarakat hanya tahu satwa laut unik ini kebanyakan muncul di wilayah dingin seperti kawasan kutub.
Tak heran jika Maratua mendadak riuh, bukan karena keindahan baharinya, melainkan karena kehadiran tamu istimewa yang tertangkap kamera wisatawan. Beberapa video viral itu menunjukkan lima hingga enam individu Paus Orca (Orcinus orca) tampak membelah permukaan, menunjukkan sirip punggung hitam yang gagah.
Namun di mata Muchlis Efendi, dosen sekaligus peneliti kelautan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman, ini adalah fenomena yang lebih besar dari sekadar konten media sosial.
“Orca ini mamalia, dan mereka adalah pengembara atau migratory,” buka Muchlis, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, Maratua hanyalah salah satu halte dalam perjalanan panjang mereka dari belahan bumi utara menuju selatan. Jalurnya sudah terpetakan secara alami yakni masuk dari Laut Sulawesi, melintasi Selat Makassar, dan biasanya akan muncul kembali di Gorontalo, Selayar, hingga Nusa Tenggara sebelum berakhir di perairan Australia.
Menariknya, kemunculan orca di Kalimantan Timur sebenarnya bukan barang baru. Muchlis mengenang laporannya sendiri di masa lalu.
“Pertama kali saya bertemu justru di Lamin Guntur, daerah Kaniungan, Biduk-Biduk. Itu perbatasan Laut Sulawesi dengan Tanjung Mangkalihat. Tahun 2017 atau 2018 juga pernah terlaporkan. Hanya saja sekarang dive operator di Maratua sangat masif, jadi frekuensi pertemuannya terdokumentasi dengan baik,” jelasnya.
Meski frekuensi pertemuan meningkat, Muchlis mengakui bahwa tabir mengenai raksasa laut ini masih sulit disingkap secara ilmiah di level lokal. Ia menyebut bahwa minimnya laporan selama ini bukan berarti mereka tidak ada, melainkan karena kita masih kekurangan data riset yang fokus.
“Kita di Kaltim belum punya datanya secara spesifik. Kami memang mungkin masih belum fokus ke sana, jadi sejauh ini sifatnya masih eksidental ketemu saja. Kalau mungkin bisa akses ke teman-teman internasional, mereka mungkin punya. Tapi bagi kita, ini tantangan karena penelitian khusus soal ini memang belum ada,” ungkap Muchlis jujur.
Namun, kehadiran mereka di perairan tropis membawa perubahan perilaku yang patut diwaspadai. Orca yang terbiasa di air dingin harus beradaptasi dengan metabolisme yang lebih cepat saat berada di air hangat. Akibatnya, mereka menjadi lebih sering lapar.
“Saat metabolisme lebih cepat, mereka akan lebih banyak cari makan. Apa yang ada di depan mata, itulah yang dimakan. Bisa ikan, penyu, bahkan hiu,” kata Muchlis.
Ia mengingatkan bahwa saat “mode berburu” ini aktif, orca menjadi makhluk yang sangat berbeda. Sangat cerdas dan mematikan. Perairan Kalimantan Timur memang menyimpan banyak rahasia besar. Muchlis menceritakan bahwa bukan hanya orca yang pernah menyapa.
“Tahun 2024 kemarin, saya sendiri bertemu Finback Whale (Paus Sirip) di Bontang. Paus raksasa yang ada siripnya itu. Indikasinya sama, mereka mencari ikan-ikan kecil,” tambahnya.
Fenomena ini adalah pengingat bahwa laut kita adalah jalan tol utama bagi raksasa samudera. Ini sekaligus menyingkap tabir misteri jalur migrasi sang penguasa rantai makanan tersebut. “Satu minggu ke depan, kalau sudah lepas dari Maratua, kemungkinan besar mereka akan muncul di Selayar mengikuti arus Arlindo,” ujar Muchlis.
Tentu saja muncul pertanyaan, mengapa Laut Sulawesi dan Selat Makassar menjadi lalu lintas puncak predator itu? Jawabannya mungkin tersembunyi di kedalaman palung yang menyimpan cadangan makanan melimpah, serta arus kuat Arlindo yang berfungsi bak jalan tol bagi pengembara samudera.
Namun, di atas segalanya, kehadiran mereka adalah pengingat bahwa perairan kita merupakan nadi vital bagi keberlangsungan raksasa dunia, sebuah rahasia alam yang menanti untuk dipecahkan lewat penelitian yang lebih mendalam.
Di Balik Munculnya Paus Orca di Maratua: Jejak Migrasi dan Alarm bagi Perairan Kalimantan Timur
