Pagi itu, Jack lebih banyak menyendiri di sudut playground Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam. Bayi orang utan itu hanya sesekali menggapai ranting, lalu kembali mendekat, memilih berada di pelukan animal keeper yang merawatnya. Di tempat yang dikelola Conservation Action Network (CAN) itu, Jack masih belajar merasa aman, belajar percaya, setelah pengalaman awal hidupnya yang tidak ramah.
Jack kini berada dalam perawatan intensif tim medis dan animal keeper CAN. Kondisinya berangsur membaik. Demam yang sempat tinggi mulai turun, nafsu makan buah dan susu stabil, dan hasil pemeriksaan feses menunjukkan tidak adanya infeksi parasit. Luka-luka di telapak tangan dan kaki akibat duri kelapa sawit juga menunjukkan tanda penyembuhan.
“Ketika Jack pertama kali datang, kondisinya tidak baik. Ia terlihat sangat stres, demam, dan tubuhnya panas. Ada juga beberapa duri yang menyebabkan luka bernanah,” kata Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto, dalam wawancara beberapa waktu lalu.
Menurut Paulinus, perubahan Jack cukup signifikan setelah menjalani perawatan. Duri yang sempat tertanam di telapak kaki kiri berhasil ditangani, dan luka perlahan menutup. Hasil pemeriksaan darah juga menunjukkan tidak ada kelainan serius. “Sekarang Jack sudah bisa dibawa ke playground dan mulai berinteraksi,” ujarnya.
Meski begitu, Jack masih sering memilih menyendiri. Ia mulai bermain bersama dua orang utan lain, Hannes dan Lukas, namun belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada manusia. “Ini hal yang normal untuk bayi orang utan seusia Jack. Justru ini pertanda baik, karena ia mulai menyesuaikan diri dan tidak lagi takut pada manusia,” kata Paulinus.
Sebelum berada di PPS Long Sam, Jack ditemukan warga di sebuah kebun kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur. Ia diperkirakan belum genap berusia satu tahun saat ditemukan. Tubuhnya sangat kurus, dengan kondisi Body Condition Score (BCS) 1, serta mengalami dehidrasi ringan.
Selama tiga hari, Jack sempat dirawat oleh keluarga yang menemukannya. Setelah itu, warga melaporkan temuan tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur untuk dilakukan penyelamatan. Jack kemudian dievakuasi dan diserahkan ke CAN untuk rehabilitasi.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan penyelamatan Jack merupakan tindak lanjut cepat dari laporan masyarakat. “Kami mendapatkan informasi adanya orang utan di pinggir kebun warga. Kami segera ambil dan rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam,” ujarnya.
Ia menegaskan, tujuan rehabilitasi tidak hanya memulihkan kesehatan fisik Jack, tetapi juga mengembalikan naluri liarnya. “Harapan kami ke depan, orang utan ini sehat dan sisi keliarannya juga baik, sehingga dapat dilepasliarkan kembali di lokasi pelepasliaran yang terpantau,” kata Ari.
Kini, Jack masih menjalani hari-harinya di PPS Long Sam, lebih sering dalam dekapan animal keeper, sambil perlahan belajar memanjat, bermain, dan suatu saat nanti, kembali menjadi bagian dari hutan.
