PDAM Danum Taka PPU Peringatkan Ancaman Krisis Air Baku Hingga 2028

PENAJAM — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Danum Taka Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, memperingatkan potensi krisis air bersih menyusul prediksi fenomena kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga triwulan pertama 2028.

Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, mengungkapkan bahwa berdasarkan data BMKG dan BRIN, wilayah setempat hanya memiliki waktu sekitar empat bulan musim hujan—mulai November hingga Februari—sebelum memasuki siklus kemarau panjang sejak Maret.

“Kita punya waktu hanya empat bulan untuk mengamankan posisi air baku kita. Pasalnya, per 27 Oktober, kondisi pelayanan PDAM hampir 70 persen sudah tidak berfungsi optimal akibat susutnya sumber air baku,” kata Abdul Rasyid di Penajam.

Rasyid membeberkan, sejumlah unit pengolahan dan instalasi air baku di PPU kini mengalami penurunan kapasitas yang signifikan. Unit Babulu direncanakan dihentikan sementara operasionalnya akibat penyusutan air yang sangat parah. Sementara itu, Embung Waru yang turut menyuplai kawasan Penajam dan Petung melalui sistem interkoneksi, kini menyisakan kedalaman 1,27 meter dari kapasitas normal 3 meter.

“Kondisi di Lawe-Lawe juga memprihatinkan, saat ini pengaliran air terganggu hingga 90 persen dan hanya mampu beroperasi sekitar dua jam per hari. Adapun Unit Sotek sudah empat bulan tidak beroperasi, serta Embung 1 Maridan telah ditutup,” jelasnya.

Untuk wilayah Sepaku, Rasyid menyebutkan bahwa pasokan air memanfaatkan buangan Bendungan Sepaku Semoi. Namun, alokasi air di lokasi tersebut kini juga terbagi untuk kebutuhan jaringan pipa Intake Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN).

Guna mengantisipasi krisis air yang meluas, pihak Perumda Danum Taka telah bersurat kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD PPU untuk mendorong langkah penanganan darurat.

“Kami mengusulkan lima kegiatan mendesak yang harus disegerakan selama musim hujan ini, yaitu normalisasi Bendung Babulu, Bendung Waru, Embung Lawe-Lawe, Embung Sotek, serta pembangunan pintu air di Lawe-Lawe. Langkah ini kunci untuk menyelamatkan ketersediaan air baku masyarakat PPU,” pungkas Rasyid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *