KUTAI TIMUR — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas ke kawasan pedalaman Kabupaten Kutai Timur. Sebagai langkah tanggap darurat, paket bantuan sarana dan prasarana (sarpras) pemadaman resmi diserahkan kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tebangan Lembak, Kecamatan Bengalon, pada Minggu (18/10/2026).
Penyaluran bantuan ini dilakukan untuk memproteksi kawasan Hutan Desa Tebangan Lembak yang berbatasan langsung dengan Area Penggunaan Lain (APL) serta jalur koridor pertambangan. Selama musim kemarau, vegetasi di luar kawasan hutan tersebut mengering dan rawan terbakar, sehingga memicu risiko rambatan api ke area inti perhutanan sosial di dekat aliran sungai.
Kepala Balai Perhutanan Sosial Kutai Kartanegara, Mochlis, mengonfirmasi bahwa penyerahan sarpras tersebut difokuskan pada titik-titik rawan yang memiliki cakupan hutan desa cukup luas.
“LPHD Tebangan Lembak menjadi salah satu sasaran utama karena luas kawasan Hutan Desanya yang signifikan. Langkah ini diambil sebagai antisipasi awal. Jika terjadi kebakaran, warga lokal sudah memegang peralatan standar untuk melakukan pemadaman mandiri,” kata Mochlis saat diwawancarai pada Rabu (21/10/2026).
Paket bantuan yang diserahkan meliputi satu set unit mesin pompa air tekanan tinggi lengkap dengan Y-connector, dua rol selang pemadam sepanjang 30 meter, nozzle spray, serta beberapa unit pompa punggung (jet shooter) portabel. Peralatan jet shooter tersebut disiapkan khusus untuk menjangkau titik api di medan terjal yang tidak bisa diakses oleh kendaraan roda empat.
Mochlis menekankan bahwa pengadaan fisik peralatan pemadam harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Bersamaan dengan penyerahan alat, pihak Balai berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Balai Manggala Agni, dan mitra lembaga GIZ untuk mengaktifkan kembali regu Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tebangan Lembak yang sempat vakum.
“Memberikan bantuan alat tanpa kemampuan operasional tentu tidak akan efektif. Regu MPA yang lama akan diremajakan dengan personel-personel baru dari pemerintah desa. Satu regu disiapkan berisi 15 orang, dan dalam waktu dekat mereka langsung mendapat pembekalan serta pelatihan teknis pemadaman,” ujar Mochlis.
Saat ini, fokus pemantauan petugas gabungan masih tertuju pada area luar Hutan Desa. Pemukiman RT 1 Tebangan Lembak, yang berada di kawasan paling dalam dan terhimpit konsesi tambang, menjadi perhatian utama pencegahan agar aktivitas pembakaran lahan di area APL tidak sampai menjebol kawasan konservasi desa.
