PHKT Ajak Awak Media Saksikan Langsung Operasi Pengeboran Migas Offshore di Rig AE-1

PENAJAM PASER UTARA – PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur mengajak belasan awak media di Kalimantan Timur melihat langsung aktivitas pengeboran migas lepas pantai melalui program BASO IGA PHI Edisi Khusus Goes to Rig yang berlangsung di Rig Asian Endeavour (AE-1), 7 Mei 2026.

Kegiatan yang digelar di wilayah operasi PHKT Daerah Operasi Bagian Selatan (DOBS) itu diikuti 13 jurnalis dari media cetak, online, dan televisi. Para peserta diajak melihat secara langsung proses kerja di anjungan pengeboran offshore, mulai dari sistem operasional, budaya keselamatan kerja, hingga aktivitas kru yang bekerja selama 24 jam penuh.

Di lokasi pengeboran, para jurnalis memantau proses pengeboran sumur Sejadi SJ-4RD1 yang telah mencapai kedalaman 9.112 kaki atau sekitar 2,78 kilometer di bawah permukaan bumi. Operasi di Rig AE-1 melibatkan sekitar 120 personel onboard (POB) dengan pola kerja dua shift.

Sebelum pergantian shift, kru terlebih dahulu mengikuti safety meeting untuk membahas kesiapan pekerjaan, potensi risiko, serta langkah mitigasi keselamatan. Setelah itu dilakukan handover pekerjaan antarshift guna memastikan seluruh proses berjalan aman dan tanpa kendala.

Para peserta juga melihat penerapan disiplin penggunaan alat pelindung diri (APD) di area kerja offshore. Di tengah aktivitas pengeboran yang berlangsung tanpa henti, para pekerja tetap menjalani pola istirahat teratur untuk menjaga kebugaran dan fokus selama bekerja.

Assistant Manager Drilling Operations PHKT, Bidner Sianturi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi media untuk melihat langsung realitas kerja industri hulu migas di lapangan.

“Harapan kami sederhana, teman-teman media tidak hanya datang melihat rig, tetapi pulang membawa cerita. Cerita tentang kerja keras di balik energi, tentang manusia di balik angka produksi, dan tentang semangat para perwira yang terus bekerja menjaga ketahanan energi nasional,” ujar Bidner.

Menurut dia, aspek HSSE atau Health, Safety, Security, and Environment menjadi budaya utama yang diterapkan dalam setiap aktivitas operasi perusahaan.

“Operasi offshore memiliki tingkat risiko tinggi, sehingga seluruh proses kerja harus dijalankan dengan disiplin dan mengikuti prosedur keselamatan secara ketat,” katanya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Penajam Paser Utara, Erwin, yang ikut dalam kegiatan tersebut mengaku mendapatkan perspektif baru setelah melihat langsung proses pengeboran migas offshore.

“Selama ini mungkin kami hanya mengetahui proses operasi dari press release atau pemberitaan. Ketika melihat langsung di lapangan, kami memahami bahwa operasional migas memiliki proses yang sangat kompleks dan membutuhkan disiplin kerja tinggi,” ujar Erwin.

Ia menilai keterbukaan perusahaan memberi kesempatan kepada media untuk memahami proses operasional secara langsung menjadi bekal penting dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Kami mengapresiasi keterbukaan PHKT karena media bisa melihat langsung bagaimana proses operasi berlangsung. Ini membantu kami menghadirkan informasi yang lebih utuh dan edukatif kepada masyarakat,” tambahnya.

Sebelum memasuki area rig, seluruh peserta mengikuti safety induction yang dipandu tim HSSE bersama Offshore Installation Manager (OIM) Rig AE-1 dan manajemen rig.

Dalam kegiatan tersebut, perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi, Nindya Puspaningtiyas, turut memaparkan peran SKK Migas dalam pengawasan kegiatan hulu migas serta pentingnya sinergi komunikasi dengan media.

Sementara itu, Manager Communication, Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia, Dony Indrawan, berharap media dapat terus menghadirkan pemberitaan yang informatif dan berimbang terkait kegiatan industri hulu migas.

“Kami berharap teman-teman media dapat menceritakan apa yang kami lakukan secara positif, informatif, dan objektif sehingga masyarakat memahami upaya perusahaan dan pekerja migas dalam menyediakan energi bagi pembangunan Indonesia,” kata Dony.

Menurut dia, informasi yang kredibel sangat penting, terutama untuk menjelaskan aktivitas offshore yang bersinggungan dengan jalur nelayan dan kegiatan maritim masyarakat.

“Industri hulu migas merupakan industri yang kompleks, padat teknologi, padat investasi, dan memiliki risiko tinggi. Karena itu dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan berimbang,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *