KUTAI TIMUR, KALIMANTAN TIMUR – Ia hanya sanggup berjalan beberapa meter. Tulang rusuknya menonjol, skor kondisi tubuhnya 1 dari 5. Tiga hari pertama di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, Berau, ia menolak makan dan hanya mau minum. Baru pada hari keempat ia menyentuh makanan.
Individu orang utan itu satu dari 13 yang diselamatkan di Kalimantan Timur sejak Juli 2026. Angka tersebut dicatat Conservation Action Network (CAN), dan hampir semuanya punya cerita yang sama yakni dehifrasi alias kekurangan air.
Kemarau panjang tahun ini membuat orang utan keluar dari hutan. Satu jantan berusia sekitar 25 tahun muncul berkali-kali di jalan hauling PT Surya Hutan Jaya (SRH), Muara Bengkal, Kutai Timur. Tim gabungan mencarinya berminggu-minggu, dengan drone dan penyisiran lapangan. Ia baru ditemukan pada 17 September dan dilepasliarkan sehari kemudian di Hutan Kehje Sewen, Muara Wahau.
Individu lain viral lewat video operator excavator. Pada 14 September, orang utan itu ditemukan di Desa Menamang Kanan, Muara Kaman, Kutai Kartanegara, dalam keadaan malnutrisi berat dan dehidrasi parah. Ada pula sepasang induk dan anak yang kini dirawat di PRS Long Sam. Sisanya langsung ditranslokasi.
“Semenjak Juli sampai saat ini ada 13 orang utan yang diselamatkan,” kata Founder CAN, Paulinus Kristianto.
Ketika ditanya apakah semuanya mengalami dehidrasi, Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjawab singkat. “Sebagian besar. Sebagian besar dehidrasi.”
Menurut Ari, kemarau biasa masih memberi ruang bagi satwa bertahan. “Kebutuhan air masih bisa terpenuhi, tidak hanya dari minum langsung, tapi juga dari pucuk-pucuk daun yang masih mengandung air,” ujarnya.
El Nino mengubah itu. Sumber air menyusut, dan daun tak lagi menyimpan cukup air. “Pada kondisi ekstrem, sumber-sumber air akan berkurang. Antisipasi harus segera dilakukan,” kata Ari.
Paulinus menambahkan, persoalan diperparah oleh hutan yang terfragmentasi. Orang utan yang berpindah harus melewati area tanpa pohon dan tanpa air. “Satwa dan orang utan yang kami temukan dehidrasi karena tidak ada sumber air, dan pohon-pohon juga tidak menghasilkan cukup air,” ujarnya.
Karena itulah individu yang dirawat di Long Sam, menurut Paulinus, datang dalam kondisi sangat lemah. “Dehidrasinya berat karena sumber air tidak ada di sekitar lokasi,” katanya. Ia belum bisa dilepasliarkan. “Perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi.”
Bak Air di Jalur Satwa

Dari rangkaian kasus itulah BKSDA Kaltim membuat kubangan air buatan di jalur lintasan satwa. Ukurannya sekitar 1×1 meter dengan kedalaman setengah sampai satu meter, dibangun di ceruk tanah atau aliran sungai kecil yang mengering, tempat satwa biasa mencari air.
“Kita membuat semacam bak yang kita sediakan bagi orang utan dan satwa lainnya jika mereka butuh asupan air untuk bertahan hidup,” kata Ari.
Kubangan dibuat bersama pemegang konsesi yang masih menyisakan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). Pengelola kawasan membuatnya dan mengisi ulang airnya. Lokasinya dirahasiakan agar tidak menjadi tempat pemburu menunggu. “Posisinya tidak terbuka tapi tersembunyi. Itu harus kita atur sedemikian rupa,” ujar Ari.
Tahap awal baru empat kubangan bersama satu entitas bisnis, dan diperlakukan sebagai uji coba. Kamera jebak dipasang untuk memastikan satwa benar-benar datang. “Kita pantau apakah ini berhasil guna atau tidak,” kata Ari.
Jika efektif, program diperluas. Surat edaran sudah dikirim ke perusahaan tambang, sawit, dan kehutanan di Kaltim.
Bagi CAN, yang setiap hari merawat korban kemarau, langkah ini datang pada waktunya. “Kami sangat mengapresiasi langkah BKSDA Kaltim membangun sumur atau kubangan air di area perlintasan satwa,” kata Paulinus.
Ia menilai manfaatnya melampaui soal minum. “Dengan adanya sumur-sumur ini, satwa terbantu untuk terus berpindah dan bermigrasi selama masa kemarau panjang ini.”
Empat kubangan jelas belum cukup untuk seluruh hutan Kaltim. Tetapi bagi individu yang kini belajar makan kembali di Long Sam, dan bagi sisa populasi yang masih berjalan di luar sana, bak kecil itu adalah kesempatan yang sebelumnya tidak ada.
