KUTAI BARAT — Upaya membuka akses layanan kesehatan bagi masyarakat di sekitar wilayah tambang kembali mendapat dorongan. Selasa (28/4/2026) pagi, Ruang Rapat Bappeda Litbang Kutai Barat menjadi titik awal pelaksanaan program pendaftaran BPJS Kesehatan PBPU kolektif yang digagas PT Bharinto Ekatama (BEK).
Program ini menyasar warga di tiga desa ring satu perusahaan, yakni Besiq, Bermai, dan Muara Bunyut. Sebanyak 100 warga difasilitasi untuk kembali aktif atau terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Wakil Bupati Kutai Barat, Nanang Adriani, yang hadir mewakili bupati, menyebut langkah ini sebagai kontribusi nyata dunia usaha dalam sektor pelayanan dasar.
“Ini adalah satu momen yang sangat luar biasa, kita berikan apresiasi yang setingginya kepada teman-teman dari PT BEK,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan perusahaan seperti ini dapat membantu pemerintah daerah, terutama dalam mengurangi beban pembiayaan kesehatan masyarakat. Menurutnya, jika dilakukan secara luas, program serupa akan berdampak signifikan.
“Harapan kita ini kan juga membantu meringankan beban anggaran dari pemerintah. Nah harapan selanjutnya adalah perusahaan lain seperti PT BEK ini sebagai contoh untuk melakukan hal yang sama,” katanya.
Dari sisi perusahaan, program ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial yang difokuskan pada wilayah terdekat operasional. HSEC Head PT BEK, Cipto Hadi Purnomo, menjelaskan bahwa desa ring satu memang menjadi prioritas.
“Kalau di Kalimantan Timur ada tiga desa binaan yang ring satu, yaitu Besiq, Bermai, sama Muara Bunyut. Jadi memang kita masih menyasar di ring satu kami karena memang secara kewajiban itu yang prioritas utama,” jelasnya.
Ia menyebut jumlah penerima manfaat dibagi berdasarkan kebutuhan masing-masing desa, bukan secara merata. Ke depan, perusahaan membuka peluang untuk memperluas program tersebut.
“Nanti mudah-mudahan next bisa lebih dikembangkan lagi untuk penambahan jumlahnya,” ucapnya.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya di sektor kesehatan masyarakat. Selain itu, perusahaan juga menjalankan berbagai program lain di bidang pendidikan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat.
Di sisi lain, BPJS Kesehatan melihat inisiatif ini sebagai langkah awal yang penting. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kutai Barat, Wahyu Supriono, menyebut program serupa masih belum banyak dilakukan oleh perusahaan di wilayah tersebut.
“Saat ini memang baru PT BEK yang satu-satunya mencanakan CSR PBPU kolektif khususnya untuk warga binaan mereka, ring satu,” ujarnya.
Ia menilai peluang untuk memperluas program ini masih terbuka, meski tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan.
“Tidak menutup kemungkinan akan ada lagi perusahaan-perusahaan yang memang secara kondisi finansial dan manajemen baik itu akan kita advokasi,” katanya.
Pemerintah daerah pun mendorong agar kolaborasi seperti ini terus diperluas. Selain sektor tambang, perusahaan perkebunan juga diharapkan ikut berpartisipasi dalam program serupa.
“Kalau dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain selain PT BEK sangat membantu sekali untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat,” kata Nanang.
Program ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan di Kutai Barat. Bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, kehadiran jaminan kesehatan menjadi kepastian penting saat menghadapi risiko sakit.
“Artinya kan nyata sudah manfaatnya untuk masyarakat. Masyarakat merasa yakin dan pede kalau dia sakit sudah ada jaminannya,” ujar Nanang.
