KUTAI BARAT – PT Trubaindo Coal Mining (TCM) terus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Kali ini, perusahaan fokus mendorong peran generasi muda melalui program peternakan ayam dan pertanian terpadu yang dikelola langsung oleh kelompok pemuda kampung.
Berdayakan Pemuda Kutai Barat, PT TCM Kembangkan Peternakan Ayam dan Pertanian Terpadu
Langkah ini diambil untuk membuka ruang usaha produktif sekaligus meningkatkan keterampilan anak muda dalam mengelola potensi lokal di Kutai Barat.
Salah satu motor penggeraknya adalah Kelompok Himpunan Pemuda Mandiri (HPM) IPU GREEN di Kampung Damai Seberang. Kelompok yang baru terbentuk pada 2024 ini beranggotakan tujuh pemuda setempat yang kini sukses mengelola 115 ekor ayam petelur dan 200 ekor ayam broiler.
Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam sebulan, kelompok ini mampu memproduksi sekitar 1.440 butir telur. Menariknya, para pemuda ini menggunakan cara-cara kekinian dalam memasarkan produknya, seperti pemanfaatan media sosial dan promosi visual yang menarik.
“Pelibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam program pemberdayaan masyarakat kami. Anak muda punya semangat dan kemampuan untuk berkembang jika diberi ruang dan pendampingan yang tepat,” ujar Community Development Head TCM, Jones Silas, dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026).
Jones menambahkan, program ini tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi lebih pada proses belajar membangun jaringan pemasaran dan kemandirian kolektif.
Selain peternakan, HPM IPU GREEN juga merambah ke sektor pertanian terpadu. Mereka membudidayakan berbagai komoditas mulai dari tomat, cabai, jagung, hingga sayuran hidroponik untuk mendukung kemandirian pangan lokal.
Ketua Kelompok HPM IPU GREEN, Agustian, mengakui program ini memberikan pengalaman baru bagi rekan-rekannya. “Kami belajar mulai dari pemeliharaan, produksi, sampai pemasaran. Kerja sama ini membuat kami lebih percaya diri mengembangkan usaha di kampung sendiri,” tuturnya.
Transformasi ekonomi serupa juga terjadi di Kampung Mentika. Di sana, TCM mendampingi Kelompok IFS Eso Elo Mandiri yang telah berdiri sejak 2019. Kelompok ini mengelola 300 ekor ayam petelur dengan kapasitas produksi mencapai 5.760 butir telur per bulan.
Guna memastikan keberlanjutan usaha, kelompok ini menjalankan pola kemitraan bersama TCM dan Layung Farm sebagai mitra teknis sekaligus penyerap hasil panen (offtaker).
Skema kemitraan ini dinilai sangat efektif karena petani bisa fokus sepenuhnya pada pemeliharaan ternak tanpa perlu pusing memikirkan pengadaan pakan atau kendala pemasaran. Setiap minggu, Layung Farm rutin mengambil hasil panen telur untuk didistribusikan di wilayah Kutai Barat sekaligus mengantarkan pasokan pakan.
Ketua Kelompok IFS Eso Elo Mandiri, Muso, menyebut pola ini sangat membantu meningkatkan pendapatan anggotanya. “Dengan pendampingan teknis dari Layung Farm dan TCM, kami bisa lebih fokus merawat ternak karena hasil panen sudah ada yang menampung sebagai distributor,” kata Muso.
PT Trubaindo Coal Mining (TCM) sendiri merupakan anak usaha dari PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM). Inisiatif pemberdayaan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) untuk pembangunan berkelanjutan di daerah.
